masukkan script iklan disini
KARAWANG | Matazahwa.com – Di tengah gemerlap pembangunan yang sering digaungkan, realitas pahit masih menjadi keseharian bagi generasi muda di Kecamatan Cibuaya. Bagi para pelajar di wilayah ini, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah perjuangan berat yang penuh risiko, demi satu tujuan mulia yakni menuntut ilmu.
Kondisi memprihatinkan ini terjadi di Kampung Dobolan, Dusun Tanjungsari, RT 001/003, Desa Sedari. Anak-anak seolah harus melewati "uji nyali" sebelum bisa duduk tenang di bangku kelas. Mereka terpaksa menyeberangi sungai menggunakan perahu rakit seadanya, lalu melanjutkan perjalanan menyusuri jalanan yang becek dan berlumpur, yang kondisinya jauh lebih pantas disebut jalur off-road daripada akses menuju tempat pendidikan.
Setiap langkah yang mereka tempuh sarat dengan bahaya. Salah melangkah, bukan hanya keterlambatan yang didapat, melainkan keselamatan nyawa yang taruhannya. Ironisnya, kondisi yang menyedihkan ini seolah belum cukup menyentuh hati para pemangku kebijakan. Entah dianggap hal biasa, atau memang perhatian belum sampai menyentuh akar permasalahan yang sesungguhnya.
Padahal, harapan masyarakat sangatlah sederhana: adanya jalan yang layak, akses yang aman, serta bukti nyata kepedulian dari pihak yang bertanggung jawab.
"Kalau untuk sekolah saja harus sekuat ini, mungkin yang perlu diperbaiki bukan semangat anak-anaknya, tapi arah perhatiannya," ungkap salah satu warga dengan nada kecewa, Minggu (5/3/2026).
Ironi Anggaran vs Realita Lapangan
Kondisi ini menjadi semakin mencolok dan memunculkan tanda tanya besar, terutama terkait peran Pemerintah Desa setempat yang dinilai lambat bertindak. Berdasarkan informasi yang dihimpun, anggaran bantuan untuk desa diketahui selalu dialokasikan setiap tahunnya. Namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya; infrastruktur vital justru terlihat terbengkalai.
Hal ini memicu pertanyaan kritis di benak publik: Ke mana sebenarnya anggaran tersebut disalurkan dan digunakan? Mengapa masih ada wilayah yang tertinggal jauh dalam hal aksesibilitas?
Mencari kejelasan, awak media mencoba mengkonfirmasi hal tersebut kepada Kepala Desa Sedari, Bisri Mustofa.
Menurut penuturannya, akses jalan yang terputus disebabkan oleh banjir rob beberapa waktu lalu. Sementara jalan yang berlumpur merupakan akses di area tanggul empang yang saat ini sedang dikordinasikan dengan pihak terkait.
"Itumah di tanggul empang kang. Coba alamatnya dimana. Semua akses warga sudah menjadi kewajiban Pemdes untuk menangani, baik secara langsung ataupun diusulkan ke Pemerintah Daerah ataupun lewat Pokir Dewan, hanya harus bersabar sedikit," ujar Bisri Mustofa.
Ia pun menjelaskan kendala yang dihadapi, di antaranya terkait status lahan.
"Sudah di usulkan lewat program jalan produksi, tapi untuk Sedari terkendala dari status lahan kehutanan. Dan pihak kami sudah berkoordinasi dengan pihak kehutanan untuk bagi-bagi tanggungjawab. Kalau jalan tanggul empang Sedari mah banyak bangat," paparnya.
"Itu akan di kerjakan tahun ini. Sepanjang desa mampu siap di kerjakan. Kita selalu berupaya sesuai kemampuan dan boleh tanya pa kadusnya. Memang Dobolan Salam satu dusun yang terkena abrasi, kita semaksimal mungkin melakukan upaya dan sampai saat ini masih terus berusaha. Capek ngettiknya ah," terangnya dengan nada lelah menjawab pertanyaan media.
"Sami sami kang hatur nuhun tos mengingatkan semoga tahun ini bisa diselesaikan 🙏," pungkasnya.
Meski berbagai alasan telah disampaikan, masyarakat tetap berharap agar Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang melalui dinas terkait dapat segera mengambil langkah konkret. Perbaikan infrastruktur tidak bisa lagi ditunda, demi masa depan generasi penerus yang berhak mendapatkan akses pendidikan yang aman, layak, dan bermartabat.
•Tim

