masukkan script iklan disini
KARAWANG | Matazahwa.com – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disarpus) Kabupaten Karawang terus berkomitmen memperkuat perannya sebagai pusat pembelajaran dan sumber informasi bagi masyarakat. Berbagai inovasi dikembangkan untuk menjawab dinamika zaman, di antaranya kehadiran aplikasi “Si Kancil” dan layanan Spot Baca, yang kini memungkinkan warga mengakses beragam bahan bacaan secara lebih fleksibel, praktis, dan dapat dijangkau bahkan di luar jam operasional kantor perpustakaan.
Kepala Disarpus Karawang, Wahidin, menjelaskan bahwa transformasi layanan ini merupakan langkah strategis menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku dan kebutuhan masyarakat, serta pesatnya pengaruh teknologi digital di segala aspek kehidupan.
“Tantangan literasi saat ini bukan lagi sekadar menyediakan koleksi buku, melainkan bagaimana kita mampu mendorong masyarakat memiliki kebiasaan membaca yang berkelanjutan. Kita menyadari bahwa saat ini banyak warga lebih cenderung mengakses konten singkat melalui gawai, dibandingkan membaca secara mendalam. Kondisi inilah yang menjadi dasar kami merancang layanan yang relevan dan mudah diikuti,” ungkap Wahidin, Senin (11/5/2026) di ruang kantornya.
Lebih lanjut ia menyampaikan, pendekatan konvensional dalam pelayanan perpustakaan dirasa perlu disesuaikan dengan karakteristik wilayah Karawang yang didominasi oleh masyarakat pekerja industri dengan ritme kehidupan yang cepat dan padat.
“Karakteristik masyarakat Karawang mayoritas adalah pekerja sektor industri dengan mobilitas tinggi. Jika kami bertahan dengan cara kerja lama, layanan literasi justru akan tertinggal dan tidak lagi relevan. Oleh karena itu, kami memaksimalkan pemanfaatan teknologi, agar akses terhadap bacaan berkualitas bisa didapatkan kapan saja dan di mana saja,” tambahnya.
Pustakawan Disarpus Karawang, Gita, menambahkan bahwa lahirnya inovasi digital seperti aplikasi Si Kancil dan Spot Baca adalah respons langsung atas antusiasme serta harapan masyarakat yang terus meningkat terhadap layanan perpustakaan. Bahkan, banyak warga mengusulkan agar perpustakaan dapat beroperasi selama 24 jam sehari.
“Karena keterbatasan jam layanan fisik, kami menghadirkan solusi digital. Aplikasi Si Kancil – kepanjangan dari Sahabat Inovasi Karawang Cinta Literasi – menyediakan ribuan koleksi buku elektronik yang bisa diakses kapan saja. Sedangkan layanan Spot Baca disajikan dalam bentuk kode QR yang ditempatkan di titik-titik strategis, sehingga warga cukup memindai kode tersebut untuk langsung membaca materi yang tersedia,” jelas Gita.
Adapun rencana penempatan layanan Spot Baca akan difokuskan di Desa Barugbug (Kecamatan Jatisari), Desa Warungbambu (Karawang Timur), Desa Gombongsari (Rawamerta), Desa Sukaharja (Telukjambe Timur), serta di lingkungan Perpustakaan Daerah Karawang.
Selain berinovasi di ranah digital, Disarpus Karawang juga terus meningkatkan kualitas pelayanan fisik maupun memperluas jangkauan fasilitas literasi ke berbagai wilayah. Kepala Bidang Perpustakaan Disarpus Karawang, Rina, mengungkapkan animo masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan daerah terus bertumbuh signifikan.
“Dilihat dari data kunjungan harian, rata-rata kami didatangi sekitar 100 orang pengunjung. Angka ini bahkan melonjak hingga lebih dari 200 orang setiap hari Jum'at. Tingginya minat ini sejalan dengan masukan warga yang meminta penambahan jam pelayanan. Menyikapi hal tersebut, kami telah menyesuaikan jadwal operasional, khususnya pada hari Sabtu, yang semula pukul 10.00–14.00 WIB, kini diperpanjang menjadi pukul 09.00–15.00 WIB,” papar Rina.
Upaya pemerataan akses literasi juga dilakukan dengan menghadirkan sudut baca di berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan fasilitas publik. Saat ini, layanan baca telah tersedia di lingkungan RSUD, Kejaksaan Negeri Karawang, BKPSDM, Bagian Hukum, hingga Mal Pelayanan Publik (MPP).
Tak hanya itu, Disarpus juga terus menggiatkan kembali peran sekitar 50 Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan 20 perpustakaan desa yang tersebar di seluruh wilayah Karawang, agar tetap aktif menjadi pusat pembelajaran di tingkat akar rumput.
Menutup keterangannya, Wahidin menegaskan bahwa ke depannya pihaknya akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor serta pengembangan inovasi baru. Tujuannya, agar literasi tidak sekadar menjadi program kerja, melainkan tumbuh menjadi budaya yang melekat di tengah masyarakat Karawang.
“Perpustakaan di era sekarang telah bertransformasi. Kami tidak lagi hanya dikenal sebagai tempat meminjam buku, melainkan harus menjadi pusat kegiatan kreatif dan penyedia solusi bagi kebutuhan masyarakat. Hal inilah yang terus kami dorong dan wujudkan melalui berbagai terobosan pelayanan,” pungkas Wahidin.
.koko

